Minggu, 27 Mei 2012

Nasehat Lukman pada Anaknya (Berbakti Pada Orang Tua)


Nasehat Lukman pada Anaknya (Berbakti Pada Orang Tua)


Sabtu, 24 Maret 2012 14:00 Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam
bakti_pada_orang_tua_1Wasiat Lukman berikutnya adalah mengenai berbakti pada orang tua. Di dalam nasehat tersebut disampaikan alasan kenapa kita mesti berbakti pada orang tua. Karena kesusahan yang dihadapi oleh ibu ketika mengandung hingga menyapih, maka sudah pantas kita membalas kebaikannya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14).
Perintah Bakti pada Orang Tua
Sebelumnya Lukman menyampaikan wasiat yang amat penting pada anaknya yaitu untuk mentauhidkan Allah dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Setelah itu, ia menggandengkan wasiat elanjutnya dengan bakti pada kedua orang tua. Ini menunjukkan berbakti pada orang tua adalah ibadah yang amat mulia karena digandengkan dengan amalan yang mulia yaitu tauhid dan menjauhi kesyirikan. Wasiat berbakti pada orang tua yang digandengkan dengan perintah untuk mentauhidkan Allah juga disebutkan dalam beberapa ayat di antaranya,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isro’: 23).
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak” (QS. An Nisa’: 36).
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak” (QS. Al An’am: 151).
Kesusahan Ibu Ketika Mengandung Kita
Disebutkan dalam ayat yang mulia ini bahwa ibu yang mengandung kita telah mengalami berbagai kesusahan. Allah Ta’ala berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah” (QS. Lukman: 14). Inilah di antara alasan kenapa kita mesti berbakti pada orang tua karena kesusahan yang ia hadapi ketika mengandung kita (Lihat Taisir Al Karimir Rahman, 648).
Mujahid berkata bahwa yang dimaksud “وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ” adalah kesulitan ketika mengandung anak. Qotadah berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dengan penuh usaha keras. ‘Atho’ Al Khorosani berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 53).
Namun demikianlah kita jarang mengingat kesusahan ibu ketika mengandung kita. Jika kita mengingat demikian, tentu balas budi yang kita berikan pada ibu, bukan malah kedurhakaan, bukan malah suka membantah, dan bukan malah seringnya merendahkan ortu. Dan kita harus selalu ingat, bahwa ibu menyapih kita selama dua tahun, lalu pantaskah dengan kedurhakaan yang kita balas?
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami atas kedurhakaan kami selama ini.
Masa Minimal Kehamilan
Dari ayat,
وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ
Dan menyapihnya dalam dua tahun” (QS. Lukman: 14). dan juga ayat lainnya,
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (QS. Al Baqarah: 233),  para ulama mengambil kesimpulan bahwa waktu minimal ibu mengandung adalah 6 bulan. Demikian pendapat di antara dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hal ini disimpulkan pula dari ayat lainnya,
وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا
Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan” (QS. Al Ahqaf: 15). Karena kalau dihitung-hitung waktu total dari mengandung sampai menyapih adalah 30 bulan. Dan waktu menyapih adalah 2 tahun, sama dengan 24 bulan. Dengan demikian waktu minimal seorang ibu mengandung adalah 30 – 24 bulan, sama dengan 6 bulan.
Bersyukurlah pada Kedua Orang Tua
Jika kita telah mengetahui bagaimana orang tua telah mengasuh kita dan bagaimana susahnya mereka siang dan malam, maka hendaklah kita sebagai seorang anak untuk berbuat baik dan membalas kebaikan kita. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Dan ucapkanlah: "Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (QS. Al Isro’: 24).
Oleh karenanya dalam nasehat Lukman yang kita bahas, Allah Ta’ala berfirman,
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14). Siapa yang membalas kebaikan orang tua dengan berbuat baik padanya, maka Allah pun akan membalasnya di hari kiamat kelak (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 53-54).
Syaikh As Sa’di berkata, “Hendaklah kita berbuat baik pada kedua orang tua dengan berkata yang lemah lembut, perbuatan yang baik, tawadhu’, selalu memuliakan mereka dan jangan sampai menyakiti mereka dengan perkataan atau perbuatan”. (Taisir Al Karimir Rahman, 648).
Bakti kepada Ibu Lebih Utama
Dari ayat yang kita bahas, menunjukkan bahwa bakti kepada ibu itu lebih utama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »
Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331).
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Referensi:
  1. Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Manan, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.
  2. Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, 1421 H.
  3. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.
  4. Fiqh  At Ta’amul Ma’al Walidain, Musthofa Al ‘Adawi, terbitan Maktabah Makkah.

@ KSU, Riyadh, KSA, 1 Jumadil  Ula 1433 H

Sabtu, 19 Mei 2012

Waktu-waktu Terkabulnya Do'a


Waktu-waktu terkabulnya Do'a



Sungguh berbeda Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan makhluk-Nya. Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Lihatlah manusia, ketika ada orang meminta sesuatu darinya ia merasa kesal dan berat hati. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai hamba yang meminta kepada-Nya. Sebagaimana perkataan seorang penyair:
الله يغضب إن تركت سؤاله  وبني آدم حين يسأل يغضب
Allah murka pada orang yang enggan meminta kepada-Nya, sedangkan manusia ketika diminta ia marah
Ya, Allah mencintai hamba yang berdoa kepada-Nya, bahkan karena cinta-Nya Allah memberi ‘bonus’ berupa ampunan dosa kepada hamba-Nya yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
يا ابن آدم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أبالي
Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu” (HR. At Tirmidzi, ia berkata: ‘Hadits hasan shahih’)
Sungguh Allah memahami keadaan manusia yang lemah dan senantiasa membutuhkan akan Rahmat-Nya. Manusia tidak pernah lepas dari keinginan, yang baik maupun yang buruk. Bahkan jika seseorang menuliskan segala keinginannya dikertas, entah berapa lembar akan terpakai.
Maka kita tidak perlu heran jika Allah Ta’ala melaknat orang yang enggan berdoa kepada-Nya. Orang yang demikian oleh Allah ‘Azza Wa Jalla disebut sebagai hamba yang sombong dan diancam dengan neraka Jahannam. Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60)
Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah Maha Pemurah terhadap hamba-Nya, karena hamba-Nya diperintahkan berdoa secara langsung kepada Allah tanpa melalui perantara dan dijamin akan dikabulkan. Sungguh Engkau Maha Pemurah Ya Rabb…
Berdoa Di Waktu Yang Tepat
Diantara usaha yang bisa kita upayakan agar doa kita dikabulkan oleh Allah Ta’ala adalah dengan memanfaatkan waktu-waktu tertentu yang dijanjikan oleh Allah bahwa doa ketika waktu-waktu tersebut  dikabulkan. Diantara waktu-waktu tersebut adalah:
1. Ketika sahur atau sepertiga malam terakhir
Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang berdoa disepertiga malam yang terakhir. Allah Ta’ala berfirman tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, salah satunya:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُون
Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka berdoa memohon ampunan” (QS. Adz Dzariyat: 18)
Sepertiga malam yang paling akhir adalah waktu yang penuh berkah, sebab pada saat itu Rabb kita Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit dunia dan mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang berdoa ketika itu. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا ، حين يبقى ثلث الليل الآخر، يقول : من يدعوني فأستجيب له ، من يسألني فأعطيه ، من يستغفرني فأغفر له
Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘” (HR. Bukhari no.1145, Muslim no. 758)
Namun perlu dicatat, sifat ‘turun’ dalam hadits ini jangan sampai membuat kita membayangkan Allah Ta’ala turun sebagaimana manusia turun dari suatu tempat ke tempat lain. Karena tentu berbeda. Yang penting kita mengimani bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia, karena yang berkata demikian adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam diberi julukan Ash shadiqul Mashduq (orang jujur yang diotentikasi kebenarannya oleh Allah), tanpa perlu mempertanyakan dan membayangkan bagaimana caranya.
Dari hadits ini jelas bahwa sepertiga malam yang akhir adalah waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak berdoa. Lebih lagi di bulan Ramadhan, bangun di sepertiga malam akhir bukanlah hal yang berat lagi karena bersamaan dengan waktu makan sahur. Oleh karena itu, manfaatkanlah sebaik-baiknya waktu tersebut untuk berdoa.
2. Ketika berbuka puasa
Waktu berbuka puasa pun merupakan waktu yang penuh keberkahan, karena diwaktu ini manusia merasakan salah satu kebahagiaan ibadah puasa, yaitu diperbolehkannya makan dan minum setelah seharian menahannya, sebagaimana hadits:
للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه
Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak” (HR. Muslim, no.1151)
Keberkahan lain di waktu berbuka puasa adalah dikabulkannya doa orang yang telah berpuasa, sebagaimana sabda  Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم
‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi)
Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Namun perlu diketahui, terdapat doa yang dianjurkan untuk diucapkan ketika berbuka puasa, yaitu doa berbuka puasa. Sebagaimana hadits
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:
ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/
(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)” (HR. Abu Daud no.2357, Ad Daruquthni 2/401, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232)
Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan lafazh berikut:
اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين
adalah hadits palsu, atau dengan kata lain, ini bukanlah hadits. Tidak terdapat di kitab hadits manapun. Sehingga kita tidak boleh meyakini doa ini sebagai hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
Oleh karena itu, doa dengan lafazh ini dihukumi sama seperti ucapan orang biasa seperti saya dan anda. Sama kedudukannya seperti kita berdoa dengan kata-kata sendiri. Sehingga doa ini tidak boleh dipopulerkan apalagi dipatenkan sebagai doa berbuka puasa.
Memang ada hadits tentang doa berbuka puasa dengan lafazh yang mirip dengan doa tersebut, semisal:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم
“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim
Dalam Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341), dinukil perkataan Ibnu Hajar Al Asqalani: “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga di-dhaif-kan oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Atau doa-doa yang lafazh-nya semisal hadits ini semuanya berkisar antara hadits dhaif atau munkar.
3. Ketika malam lailatul qadar
Malam lailatul qadar adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Malam ini lebih utama dari 1000 bulan. Sebagaimana firmanAllah Ta’ala:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam Lailatul Qadr lebih baik dari 1000 bulan” (QS. Al Qadr: 3)
Pada malam ini dianjurkan memperbanyak ibadah termasuk memperbanyak doa. Sebagaimana yang diceritakan oleh Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha:
قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني
“Aku bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar? Beliau bersabda: Berdoalah:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni ['Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku'']”(HR. Tirmidzi, 3513, Ibnu Majah, 3119, At Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih”)
Pada hadits ini Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu’anha meminta diajarkan ucapan yang sebaiknya diamalkan ketika malam Lailatul Qadar. Namun ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan lafadz doa. Ini menunjukkan bahwa pada malam Lailatul Qadar dianjurkan memperbanyak doa, terutama dengan lafadz yang diajarkan tersebut.
4. Ketika adzan berkumandang
Selain dianjurkan untuk menjawab adzan dengan lafazh yang sama, saat adzan dikumandangkan pun termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa.  Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا
Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”)
5. Di antara adzan dan iqamah
Waktu jeda antara adzan dan iqamah adalah juga merupakan waktu yang dianjurkan untuk berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة
Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Tirmidzi, 212, ia berkata: “Hasan Shahih”)
Dengan demikian jelaslah bahwa amalan yang dianjurkan antara adzan dan iqamah adalah berdoa, bukan shalawatan, atau membaca murattal dengan suara keras, misalnya dengan menggunakan mikrofon. Selain tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah  Shallallahu’alaihi Wasallam, amalan-amalan tersebut dapat mengganggu orang yang berdzikir atau sedang shalat sunnah. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
لا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة
Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,” (HR. Abu Daud no.1332, Ahmad, 430, dishahihkan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Nata-ijul Afkar, 2/16).
Selain itu, orang yang shalawatan atau membaca Al Qur’an dengan suara keras di waktu jeda ini, telah meninggalkan amalan yang di anjurkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, yaitu berdoa. Padahal ini adalah kesempatan yang bagus untuk memohon kepada Allah segala sesuatu yang ia inginkan. Sungguh merugi jika ia melewatkannya.
6. Ketika sedang sujud dalam shalat
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . فأكثروا الدعا
Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu” (HR. Muslim, no.482)
7. Ketika sebelum salam pada shalat wajib
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
قيل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات
Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar oleh Allah? Beliau bersabda: “Diakhir malam dan diakhir shalat wajib” (HR. Tirmidzi, 3499)
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Zaadul Ma’ad (1/305) menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘akhir shalat wajib’ adalah sebelum salam. Dan tidak terdapat riwayat bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib. Ahli fiqih masa kini, Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: “Apakah berdoa setelah shalat itu disyariatkan atau tidak? Jawabannya: tidak disyariatkan. Karena Allah Ta’ala berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ
Jika engkau selesai shalat, berdzikirlah” (QS. An Nisa: 103). Allah berfirman ‘berdzikirlah’, bukan ‘berdoalah’. Maka setelah shalat bukanlah waktu untuk berdoa, melainkan sebelum salam” (Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/216).
Namun sungguh disayangkan kebanyakan kaum muslimin merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib yang sebenarnya tidak disyariatkan, kemudian justru meninggalkan waktu-waktu mustajab yang disyariatkan yaitu diantara adzan dan iqamah, ketika adzan, ketika sujud dan sebelum salam.
8. Di hari Jum’at
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر يوم الجمعة ، فقال : فيه ساعة ، لا يوافقها عبد مسلم ، وهو قائم يصلي ، يسأل الله تعالى شيئا ، إلا أعطاه إياه . وأشار بيده يقللها
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan tentang hari  Jumat kemudian beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta’. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut” (HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu)
Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari ketika menjelaskan hadits ini beliau menyebutkan 42 pendapat ulama tentang waktu yang dimaksud. Namun secara umum terdapat 4 pendapat yang kuat.
Pendapat pertama, yaitu waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jum’at, berdasarkan hadits:
هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة
Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum’at selesai” (HR. Muslim, 853 dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu).
Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, An Nawawi, Al Qurthubi, Ibnul Arabi dan Al Baihaqi.
Pendapat kedua, yaitu setelah ashar sampai terbenamnya matahari. Berdasarkan hadits:
يوم الجمعة ثنتا عشرة يريد ساعة لا يوجد مسلم يسأل الله عز وجل شيئا إلا أتاه الله عز وجل فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر
Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar” (HR. Abu Daud, no.1048 dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu. Dishahihkan Al Albani di Shahih Abi Daud). Pendapat ini dipilih oleh At Tirmidzi, dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Pendapat ini yang lebih masyhur dikalangan para ulama.
Pendapat ketiga, yaitu setelah ashar, namun diakhir-akhir hari Jum’at. Pendapat ini didasari oleh riwayat dari Abi Salamah. Ishaq bin Rahawaih, At Thurthusi, Ibnul Zamlakani menguatkan pendapat ini.
Pendapat keempat, yang juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar sendiri, yaitu menggabungkan semua pendapat yang ada. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”. Dengan demikian seseorang akan lebih memperbanyak doanya di hari Jum’at tidak pada beberapa waktu tertentu saja. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu ‘Abdil Barr.
9. Ketika turun hujan
Hujan adalah nikmat Allah Ta’ala. Oleh karena itu tidak boleh mencelanya. Sebagian orang merasa jengkel dengan turunnya hujan, padahal yang menurunkan hujan tidak lain adalah Allah Ta’ala. Oleh karena itu, daripada tenggelam dalam rasa jengkel lebih baik memanfaatkan waktu hujan untuk berdoa memohon apa yang diinginkan kepada Allah Ta’ala:
ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر
Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di Shahih Al Jami’, 3078)
10. Hari Rabu antara Dzuhur dan Ashar
Sunnah ini belum diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin, yaitu dikabulkannya doa diantara shalat Zhuhur dan Ashar dihari Rabu. Ini diceritakan oleh Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu:
أن النبي صلى الله عليه وسلم دعا في مسجد الفتح ثلاثا يوم الاثنين، ويوم الثلاثاء، ويوم الأربعاء، فاستُجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين فعُرِفَ البِشْرُ في وجهه
قال جابر: فلم ينزل بي أمر مهمٌّ غليظ إِلاّ توخَّيْتُ تلك الساعة فأدعو فيها فأعرف الإجابة
Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam berdoa di Masjid Al Fath 3 kali, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu diantara dua shalat. Ini diketahui dari kegembiraan di wajah beliau. Berkata Jabir : ‘Tidaklah suatu perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk berdoa,dan saya mendapati dikabulkannya doa saya‘”
Dalam riwayat lain:
فاستجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين الظهر والعصر
Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara shalat Zhuhur dan Ashar” (HR. Ahmad, no. 14603, Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid, 4/15, berkata: “Semua perawinya tsiqah”, juga dishahihkan Al Albani di Shahih At Targhib, 1185)
11. Ketika Hari Arafah
Hari Arafah adalah hari ketika para jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari tersebut dianjurkan memperbanyak doa, baik bagi jama’ah haji maupun bagi seluruh kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Sebab Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خير الدعاء دعاء يوم عرفة
Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah” (HR. At Tirmidzi, 3585. Di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
12. Ketika Perang Berkecamuk
Salah satu keutamaan pergi ke medan perang dalam rangka berjihad di jalan Allah adalah doa dari orang yang berperang di jalan Allah ketika perang sedang berkecamuk, diijabah oleh Allah Ta’ala. Dalilnya adalah hadits yang sudah disebutkan di atas:
ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا
Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”)
13. Ketika Meminum Air Zam-zam
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ماء زمزم لما شرب له
Khasiat Air Zam-zam itu sesuai niat peminumnya” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah, 2502)
Demikian uraian mengenai waktu-waktu yang paling dianjurkan untuk berdoa. Mudah-mudahan Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa kita dan menerima amal ibadah kita.
Amiin Ya Mujiibas Sa’iliin.
Penulis: Yulian Purnama
Artikel www.muslim.or.id

PRIA YANG TIDAK LALAI DARI MENGINGAT ALLAH


Inilah sifat pria yang tidak lalai dari mengingat Allah. Kesibukan dunia mereka tidak membuat mereka berpaling dari ketaatan dan perintah Allah. Perdagangan dan jual beli pun tidak membuat mereka jauh dari Allah. Ketika ada panggilan shalat, mereka pun memenuhi panggilan tersebut. Dan lisan mereka tidaklah lepas dari dzikrullah.
Allah Ta’ala berfirman,
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An Nur: 37)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menerangkan,
Ia adalah pria yang dunianya tidak membuatnya jauh dari Rabbnya. Sama sekali kesibukan perniagaan dan mencari nafkah tidaklah mempengaruhinya. Tijaroh (perniagaan) di sini mencakup segala bentuk perdagangan untuk meraih upah. Sedangkan bai’ (jual beli) adalah bentuk lebih khusus dari perniagaan. Karena dalam perniagaan lebih banyak ditemukan transaksi jual beli. Pujian pada pria di sini bagi mereka yang berdagang dan melakukan jual beli, dan asalnya perbuatan tersebut tidaklah terlarang. Meskipun tidak terlarang, akan tetapi hal-hal tadi tidaklah mempengaruhi mereka dari mengingat Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Bahkan mereka menjadikan ibadah dan ketaatan pada Allah sebagian tujuan hidup mereka. Jadi perdagangan tadi tidaklah sama sekali menghalangi mereka menggapai ridho Allah.
Namun hati kebanyakan orang adalah sangat menaruh perhatian pada dunia. Mereka sangat mencintai penghidupan mereka. Dan sangat sulit mereka –pada umumnya- meninggalkan dunia mereka. Bahkan mereka pun bersusah payah hingga meninggalkan kewajiban pada Allah. Berbeda dengan yang disebutkan dalam ayat ini, mereka begitu takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. Karena mengingat kegoncangan hari kiamat tersebut, akhirnya mereka pun semakin mudah beramal dan meninggalkan hal yang melalaikan mereka dari Allah. (Taisir Al Karimir Rahman, 569)
Yang dimaksud dengan dzikir pada Allah (dzikrullah) dalam ayat di atas, ada tiga pendapat:
1.Shalat lima waktu
2.Mengerjakan hak Allah
3.Dzikir pada Allah dengan lisan.
Sedangkan yang dimaksud dengan menegakkan shalat adalah mengerjakan tepat waktu dan menyempurnakannya. (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi)
Sa’id bin Abul Hasan dan Adh Dhohak berkata,
لا تلهيهم التجارة والبيع أن يأتوا الصلاة في وقتها
“Yang dimaksud ayat tersebut adalah mereka perniagaan dan jual beli tidaklah membuat mereka lalai dari mendatangi shalat tepat pada waktunya.”
Mathor Al Warroq berkata,
كانوا يبيعون ويشترون، ولكن كان أحدهم إذا سمع النداء وميزانُه في يده خفضه، وأقبل إلى الصلاة.
“Yang dimaksud ayat tersebut adalah mereka biasa melakukan jual beli. Akan tetapi jika mereka mendengar adzan lalu timbangan dagangan mereka berada di tangan mereka, mereka pun meninggalkannya. Lalu mereka memenuhi panggilan shalat.”
As Suddi mengatakan mengenai ayat tersebut,
عن الصلاة في جماعة
“Mereka tidak lalai dari shalat jama’ah” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10: 252-253)
Dalam ayat disebutkan,
تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
“Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. Yaitu hati mereka dalam keadaan khawatir apakah mereka akan selamat ataukah celaka. Dan penglihatan mereka pun kebingungan melihat kiri dan kanan. (Tafsir Al Jalalain)
Ayat di atas serupa dengan ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun: 9)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Jum’ah: 9)
Apa balasan Allah pada laki-laki yang punya sifat demikian?
لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“(Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. An Nur: 38). Jika disebut seseorang berinfak tanpa batas, maksudnya karena saking banyaknya sehingga infak yang diberikan tidak bisa dihitung (Lihat Tafsir Al Jalalain).
Ya Allah, jadikanlah kami seperti yang disebutkan dalam ayat ini.
Semoga perdagangan dan kesibukan kami mencari nafkah tidak membuat kami lalai dari mengingat Allah, shalat pada waktunya dan kewajiban lainnya. Semoga lisan ini pun dimudahkan untuk selalu sibuk dengan dzikir mengingat Allah di kala waktu senggang dan waktu sibuk.
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

@ Riyadh KSA, 4 Muharram 1432 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Senin, 14 Mei 2012

Surat Al-Ghaashiyah

Surat Al-Ghāshiyah (The Overwhelming) - سورة الغاشية

Enlarge Text
Shrink Text
بسم الله الرحمن الرحيم

88:1

88:1
{ هل } قد { أتاك حديث الغاشية } القيامة لأنها تغشى الخلائق بأهوالها.
Indonesian
Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan?

88:2

88:2
{ وجوه يومئذٍ } عبر بها عن الذوات في الموضوعين { خاشعة } ذليلة.
Indonesian
Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,

88:3

88:3
{ عاملة ناصبة } ذات نصب وتعب بالسلاسل والأغلال.
Indonesian
bekerja keras lagi kepayahan,

88:4

88:4
{ تصلى } بفتح التاء وضمها { نارا حامية } .
Indonesian
memasuki api yang sangat panas (neraka),

88:5
88:5
{ تسقى من عين آنية } شديدة الحرارة.
Indonesian
diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.

88:6
{ ليس لهم طعام إلا من ضريع } هو نوع من الشوك لا ترعاه دابة لخبثه.
Indonesian
Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,

88:7
{ لا يسمن ولا يغني من جوع } .
Indonesian
yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.

88:8
{ وجوه يومئذ ناعمة } حسنة.
Indonesian
Banyak muka pada hari itu berseri-seri,

88:9
{ لسعيها } في الدنيا بالطاعة { راضية } في الآخرة لما رأت ثوابه.
Indonesian
merasa senang karena usahanya,

88:10
{ في جنة عالية } حسا ومعنى.
Indonesian
dalam surga yang tinggi,

88:11
{ لا يسمع } بالياء والتاء { فيها لاغية } أي نفس ذات لغوٍ: هذيان من الكلام.
Indonesian
tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna.

88:12
{ فيها عين جارية } بالماء بمعنى عيون.
Indonesian
Di dalamnya ada mata air yang mengalir.

88:13
{ فيها سرر مرفوعة } ذاتا وقدرا ومحلا.
Indonesian
Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan,

88:14
{ وأكواب } أقداح لا عرى لها { موضوعة } على حافات العيون معدة لشربهم.
Indonesian
dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya),

88:15
{ ونمارق } وسائد { مصفوفة } بعضها بجنب بعض يستند إليها.
Indonesian
dan bantal-bantal sandaran yang tersusun,

88:16
{ وزرابيُّ } بسط طنافس لها خمل { مبثوثة } مبسوطة.
Indonesian
dan permadani-permadani yang terhampar.

88:17
{ أفلا ينظرون } أي كفار مكة نظر اعتبار { إلى الإبل كيف خُلقت } .
Indonesian
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,

88:18
{ وإلى السماء كيف رُفعت } .
Indonesian
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?

88:19
{ وإلى الجبال كيف نُصبت } .
Indonesian
Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?

88:20{ وإلى الأرض كيف سُطحت } أي بسطت، فيستدلون بها على قدرة الله تعالى ووحدانيته، وصدرت بالإبل لأنهم أشد ملابسة لها من غيرها، وقوله: سُطحت ظاهر في الأرض سطح، وعليه علماء الشرع، لا كرة كما قاله أهل الهيئة وإن لم ينقض ركنا من أركان الشرع.
Indonesian
Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

88:21
{ فذكر } ـهم نعم الله ودلائل توحيده { إنما أنت مذكر } .
Indonesian
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.

88:22
{ لست عليهم بمصيطر } وفي قراءة بالسين بدل الصاد، أي بمسلط وهذا قبل الأمر بالجهاد.
Indonesian
Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,

88:23
{ إلا } لكن { من تولى } أعرض عن الإيمان { وكفر } بالقرآن.
Indonesian
tetapi orang yang berpaling dan kafir,

88:24
{ فيعَذِّبه الله العذاب الأكبر } عذاب الآخرة والأصغر عذاب الدنيا بالقتل والأسر.
Indonesian
maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar.

88:25
{ إن إلينا إيابهم } رجوعهم بعد الموت.
Indonesian
Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,

88:26
{ ثم إن علينا حسابهم } جزاءهم لا نتركه أبدا.
Indonesian
kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.

Kamis, 10 Mei 2012

IMAN KEPADA KITABULLAH

       Diturunkanya kitab-kitab kepada umat manusia adalah salah satu bukti bimbingan dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah sebagai Rabb alam semesta dan Dzat Yang Maha Penyayang tidak mungkin membiarkan umat manusia kebingungan dalam hidupnya. Oleh sebab itu Allah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul untuk membimbing mereka.

[1] Salah Satu Rukun Iman

      Iman kepada kitabullah adalah salah satu rukun Iman. suatu ketika, malaikat Jibril datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam bentuk seorang lelaki yang bajunya sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Lelaki itu bertanya kepada Nabi tentang Islam. Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun menjawab, "Yaitu kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir baik maupun yang buruk." (HR. Muslim dari 'Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu)

     Allah Ta'ala berfirman ,

4:136
yang artinya,:
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.
   
      Allah a'ala berfirman, 
2:285
yang artinya,:
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".
 
[2] Makna Iman Kepada Kitabullah
 
      Iman kepada Kitabullah artinya adalah kita membenarkan dengan pasti bahwa Allah Ta'ala telah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul-Nya sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya. Kita meyakini bahwa kitab-kitab itu merupakan ucapan Allah (kalamullah). Mengimani kitab-kitab itusecara umum -yang disebutkan namanya maupun tidak dan secara khusus -yaitu yang disebutkan namanya seperti Al Qur'an- (lihat kitab at-Tauhid li ash-shaff ats-Tsani Al 'Ali)
 
Bersambung Red ( di publikasikan oleh Buletin at-tauhid)  edisi 20 tahun 8 
 
      

Rabu, 09 Mei 2012

Jangan Terperangkap Bujukan Syetan


Jangan Terperangkap Bujukan Syetan
oleh Mashadi



Orang berlaku maksiat adalah orang yang ditawan, dipenjara, dibelenggu, dan dikalahkan syetan. Sesungguhnya tidak ada tawanan yang lebih buruk keadaannya, selain orang yang menjadi tawanan musuhnya. Tidak ada penjara yang lebih sempit daripada penjara syahwat. Tidak ada belenggu yang lebih susah dilepaskan daripada belenggu nafsu.
Bagaimana seseorang bisa leluasa hidupnya, dan berjalan menuju Allah Rabbul Alamin dan negeri Akhirat dengan hati yang tertawan, terpenjara, dan terbelenggu? Melangkah setapak pun manusia tidak akan sanggup. Manusia tidak bakal sanggup lagi berjalan meniti jalan hidupnya menuju kampung Akhirat, bila sudah terkena bujukan syetan, dan dipenjara oleh syahwatnya.
Kalau hati, pendengaran, dan mata sudah jauh dari Allah, penyakit-penyakit akan lekas datang menyerangnya. Penyakit kesesatan yang akan menenggelamkan hidupnya ke dalam kehinaan, dan bukan hanya di dunia belaka, tetapi kelak diAkhirat. Kekal selama-lamanya.
Sebaliknya kalau hati tetap dekat dengan Allah Rabbul Alamin, penyakit-penyakit kehidupan akan menjauhinya. Jauh dari Allah memiliki tingkatan-tingkatan yang tidak sama. lalai (ghaflah) memang bisa menjauhkan dari Allah Rabbul Alamin. Tetapi, laku maksiat lebih menjauhkan dari Allah daripada lalai. Bid'ah lebih menjauhkan dari Allah Rabbul Alamin daripada maksiat. Sedangkan sifat munafik serta syirik lebih menjauhkan dari Allah Rabbul Alamin daripada semua bentuk perbuatan maksiat.
Maksiat Menjatuhkan Kedudukan
Makhluk yang paling mulia di sisi Allah, mereka yang paling bertakwa diantara mereka, dan makhluk yang paling dekat derajatnya dengan Allah, ialah yang paling taat kepada Allah Rabbul Alamin.
Kadar ketaatan seoranglah yang menentukan kedudukannya disisi Allah Rabbu Alamin. Apabila ia berbuat durhaka kepada Allah Rabbul Alamin, dan melanggar perintah-Nya, jatuhlah martabat dan izzahnya di sisi Allah, dan menjadi sangat hina disisi manusia. Manusia yang durhaka kepada Allah Rabbul Alamin, bukan hanya hina disisi Allah Rabbul Alamin, tetapi juga menjadi sangat hina disisi manusia. Semua sudah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia sepanjang sejarah.
Hati mereka akan kehilangan simpati. Jika reputasinya di mata manusia sudah runtuh, sehingga mereka menganggapnya sebagai manusia yang hina dina, niscaya ia akan hidup di tengah-tengah mereka sebagai sosok yang buruk, yang meninggalkan kesan tidak terpuji, yang sudah tidak memiliki kehormatan dan tidak pantas memiliki kegembiraan. Sekalipun, ia memiliki kekuasaan, jabatan, dan harta yang banyak. Semua itu tidak dapat meninggikan dirinya, yang sudah runtuh dan hina itu.
Maksiat Merusak Nama Baik
Orang yang berbuat maksiat ia akan menyandang serenceng nama yang tercela dan predikat-predikat yang nista.
Bahkan ia pun akan kehilangan nama sebagai seorang yang beriman, yang berbakti, yang budiman, yan bertakwa, yang taat, yang insaf, yang sadar, yang penyayang,yang wara', yang shaleh, yang suka beribadah, yang takut kepada Allah Rabbul Alamin, yang senang bertaubat, yang baik dan sebagainya.
Sebaliknya, ia akan menyandang nama si jahat, si durhaka, si pelanggar, si pembuat kerusakan, si buruk, si tukang zina, si pencuri, si pembunuh, si pengkhianat, si tukang homoseks, si koruptor, si pembohong, si pendusta, si kotor, si pemutus hubungan kekeluargaan dan sebagainya. Semua itu adalah nama-nama yang buruk.
Allah Ta'ala berfirman:
بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ
"Seburuk-buruknya panggilan ialah (penggilan) yang seburuk sesudah iman." (QS. Al-Hujarat [49] : 11)
Itulah sebutan-sebutan yang mengandung murka Allah Rabbul Alamin, sehingga orang-orang yang bersangkutan akan masuk ke neraka dan mengalami kehidupan yang nista, seperti yang tertera dalam surah al-Waqi'ah, yang mengkisahkan tentang; "Asy-habul Syimal", yang sangat hina kelak diAkhirat.
Maksiat Mempengaruhi Kemampuan Akal
Kisah dua manusia yang sama-sama memiliki akal. Namun yang satu taat kepada Rabbul Alamin, dan yang satunya ahlul maksiat dan durhaka kepada Allah Rabbul Alamin. Maka, kita akan menemukan akal orang yang taat lebih sempurna daripada akal orang yang durhaka dan ahlul maksiat. Pikirannya lebih jernih, pendapatnya lebih akurat, dan idenya lebih cemerlang orang yang taat.
Orang yang berani durhaka kepada Rabbul Alamin yang telah menciptakannya, tidak layak disebut sebagai orang yang berakal. Mengapa? Dia sebenarnya tahu bahwa Allah Rabbul Alamin, selalu melihat dan mengawasi segala amal dan perbuatannya, tetapi manusia berani berbuat maksiat dan durhaka kepada-Nya. Dia terang-terangan durhaka dan kepada Allah Rabbul Alamin.
Dia memohon pertolongan kepada Allah dengan cara yang justru mengundang murka-Nya. Setiap waktu ia selalu membuat Allah Rabbul melaknatinya, menjauhkan dari sisi-Nya,dan mengusirnya dari pintu-Nya. Akan semacam ini dipunyai oleh orang yang hanya mementingkan kenikmatan sementara, kemudian akan lenyap begitu saja, semua kenikmatan itu bagaikan mimpi kosong.
Maksiat Memutuskan Hubungan Hamba Dengan Rabbul Alamin
Apabila sudah putus hubungan dengan Allah Rabbul Alamin, praktis pula semua sebab kebaikan darinya, dan diganti dengan jalinan sebab-sebab keburukan. Keberuntungan apa lagi yang dapat diharapkan manusia? Kehidupan apalagi yang bisa ditunggu oleh orang yang sudah tidak mempunyai hubungan dengan segala kebaikan? Padahal, Allah yang menyayanginya, melindunginya, dan selalu memberikan apa saja yang dibutuhkan manusia setiap saat. Jika sudah itu yang terjadi tidak ada lagi ganti dari-Nya.
Jika sudah demikian, ia tidak akan mendapatkan kebaikan. Sebaliknya ia akan mendapatkan keburukan dan penderitaan serta siksan yang sangat dahsyat dari Rabbul
Alamin.
Maksiat Bisa Menghapus Berkah Usia, Berkah Rizki, Berkah Ilmu, Berkah Amal, dan Berkah Ketaatan
Secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa perbuatan maksiat itu menghapus berkah agama dan dunia. Sehingga orang yang berani durhaka kepada Allah Rabbul Alamin akan kita dapati sebagai orang yang paling sedikit berkah umur, agama dan dunianya. Hanya perbuatan maksiat manusia yang dapat menghapus berkah bumi.
Kisah umat-umat yang terdahulu yang berbuat maksiat, bukan hanya dihinakan oleh Allah Azza Wa Jalla, tetapi mereka juga dihancurkan sehancur-hancurnya oleh Allah Rabbul Alamin. Seperti kaumnya Nabi Luth, kaum Ad, kaum Tsamud, dan kaumnya Nabi Nuh, semuanya dihancurkan oleh Allah Rabbul Alamin.
Maksiat Dapat Membuat Orang Menjadi Golongan Rendah
Manusia diciptakan oleh Allah Rabbul Alamin sebagai makhluk yang mulia. Tetapi kemudian derajatnya, jatuh serendah-rendahnya, karena perbuatan maksiat mereka. Begitulah keadaan jiwanya, jiak seorang hamba berani berbuat maksiat, ia akan turun ke derajat yang sangat rendah, dan akan terus turun sampai ke titik yang paling rendah.
Segala kemuliaan, kebaikan, derajat, serta izzah, menjadi sirna bersamaan dengan datangnya maksiat pada dirinya. Dirinya tenggelam dalam kenikmatan maksiat dan syahwat, yang dibisikkan syetan. Mereka yang sudah tenggelam dalam maksiat itu, seperti merasa dalam kenikmatan, yang sebenarnya kesesatan yang menghancurkan kehidupannya.
Maksiat Membuat Syetan Menjadi Berani Kepada Seorang Hamba
Karena seorang manusia sudah terbiasa dengan maksiat, syetan menjadi berani mengangggunya, membujuk, menggoda, menyesatkan, menakut-nakuti, membuatnya sedih, cemas, gelisah, murung, lupa ingatan, dan selalu berbuat yang mudharat. Merusak kehidpan manusia lainnya.
Akibatnya, dengan leluasa syetan, semakin berani mendorong-dorongnya untuk berbuat maksiat kepada Allah. Syetan-syetan menjelma sebagai manusia, mereka akan mengganggu manusia-manusia yang lemah imannya, dan sudah terbelenggu dengan maksiat dan bujukan syetan, serta kenikmatan dunia.
Sejatinya berbuat durhaka dan maksiat kepada Allah, tetapi mereka merasa berada di jalan Allah Rabbul Alamlin. Itulah manusia-manusia yang sudah jatuh dalam bujukan syetan. Wallahu'alam.

7 MACAM MANUSIA YANG AKAN MENDAPAT NAUNGAN ALLAH SWT


 7  MACAM MANUSIA YANG AKAN MENDAPAT NAUNGAN ALLAH SWT


Abu Hurairah ra menuturkan, aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda, "Tujuh macam manusia yang akan mendapat naungan Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Mereka adalah pertama, seorang pemimpin yang adil, kedua, seorang pemuda yang tumbuh berkembang dalam ibadah kepada Allah, ketiga, dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah, dan berpisah karena Allah, keempat, seseorang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian dan kemudian bercucuran air matanya, kelima, seseorang yang hatinya tertambat pada masjid-masjid, keenam, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya (sedekahnya) itu hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan koleh tangan kanannnya, ketujuh, seseorang yang ketika dipanggil oleh seseorang wanita yang bermartabat dan cantik jelita, ia menjawab, "Sesungguhnya akut takut kepada Allah, Tuhan semesta alam".
Ketujuh macam orang itu, menurut para ulama, termasuk para penganut Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dan yang dimaksud adalah bukan tujuh individu, melainkan tujuh golongan.
Adapun golongan pertama, adalah golongan pemimpn yang adil. Mereka itu adalah setiap orang yang berbuat adil terhadap orang-orang yang dipimpinnya, baik ia seorang pemimpin dalam arti umum - sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah atau pun pemimpin dalam arti khusus.
Bahkan,menurut sebagian ulama, seorang guru yan berbuat adil terhadap murid-muridnya, misalnya kemudian ia menilai hasil ujian mereka dengan adil, maka ia termasuk orang yang adil, sebagaimana dimaksud oleh hadist ini.
Ketika seorang guru menguji murid-muridnya, misalnya kemudian ia menilai hasil ujian mereka dengan adil, maka ia termasuk orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak naungan lain selain naungan-Nya.
Sedangkan yang sayogyanya diperbuat oleh setiap mukmin adalah, berupaya semaksimal mungkin agar dirinya memilikisalah satu sifat dari ketujuh golongan ini. Atau, kalau bisa, hendaknya ia berusaha agar memiliki dua, atau tiga dari ketujuh sifat itu.
Dan, hal itu sangat mudah bagi siapa saja yang dimudahkan Allah. Bahkan, sangat ringan bagi siapa yang dirinya diringan Allah Ta'ala.
Terbukti, orang-orang mengakui Umar ibn Abdul Aziz ra, salah satu seorang Khalifah dari Bani Umawiyyah, sebagai orang yang pada dirinya terdapat beberapa sifat dari ketujuh golongan tadi. Diantaranya, pertama, ia adalah seorang pemuda yang tumbuh berkembang, atau menghabiskan masa mudanya dalam peribadahan kepada Allah, kedua, ia pemimpin yang adil, ketiga, hatinya selalu tertambat di masjid-masjid.Dengan demikian, sangat mungkin pula,ia termasuk orang yang senang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian kemudian air matanya bercucuran. Bahkan, tidak berlebihan pula, bial ia diyakini sebagai seseorang yang mencintai kaumnya, karena Allah dan bersama-sama mereka dalam mencintai Allah.
Perkataan Rasulullah shalllahu alaihi wassalam, "Tujuh macam manusia yang akan mendapat naungan Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungn selain naungan-Nya", ini mengabarkan, bahwa pada hari kiamat kelak tidak ada tempat bernaung satupun, selain naungan Allah. Pada hari itu, juga tidak tempat teduh satupun, selain keteduhan yang diberikan Allah Ta'ala.
Begitulah, pada hari kiamat kelak tidak ada naungan, tak ada pohon, tak tempat berteduh, dan tak ada sesuatu pun yang bisa melindungi manusia dari sengatan terik matahari yang pada saat itu sangat dekat sekali dengan kepala seluruh manusia.
Al-Miqdad ibn al-Awwad mengatakan, "Aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wassalam mengatakan, "Matahari, pada hari kiamat kelak, akan sangat dekat dengan kepala manusia, dan bahkan, jarak antara matahari dan manusia saat itu, hanya satu mil saja. Miqdad berkata, "Demi Allah, aku tidak tahu, apakah yang dimaksud dengan satu mil itu adalah milnya alat celak mata, ataukah mil itu yang dimaksud berlaku umum?".
Disebutkan, pada hari itu Sang Maha Perkasa nampak dengan segala keagungannya dan kebesaran-Nya duduk di singgsana yang amat agung. Menurut sebuah riwayat, saat itu, singgasana Allah ini dipikul oleh delapan malaikat dan Allah berada diatasnya dengan segala keagungan, kebesaran, kemuliaan-Nya yang tiada bandingan sedikitpun. Semua itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Entah bagaimana, di mana, seperti apa, dan laksana apa? Yang jelas, Dia akan berahta di singgasana-Nya sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an.
Kemudian, dari atas singgasana-Nya itu, Allah akan menyeru dengan suara-Nya yang terdengar sama oleh mereka yang dekat dan mereka yang jauh. "Akulah Sang Raja Mahadiraja" - yang Mahasuci lagi Mahaagung.Dialah sang Raja, yakni sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur'an, "Yang menguasai Hari Pembelasan". (QS : al-Fatihah : 3). Artinya, tidak ada raja selain Dia.
Dalam sebuah hadist Qudsi, disebutkan Allah Ta'ala, berfirman : "Akulah Sang Raja, dimanakah raja-raja dunia?". Kemudian Dia mengulanginya lagi hingga tiga kali, "Akulah Sang Raja, dimanakah raja-raja dunia?".
Lalu Dia bertanya, "Milik siapakah kekuasaan pada hari ini? Milik siapakah kekuasaa hari ini? Miliki siapakah kekuasaan pada hari ini? Lantas, Allah menjawabnya sendiri seraya berkata, "Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan". (QS : Ghafir : 16)
Sesaat kemudian, Allah Ta'ala mengawali panggilannya. Dia berkata, "Mana orang-orang yang cinta-mencitai dalam kebesaran-Ku? Pada hari ini, aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku,sedang hari ini tidak ada naungan selain naungan-Ku".
Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Menurut riwayat ini, ketika seluruh manusia - dari sejak dahulu kala, hingga akhir zaman nanti - dikumpulkan menjadi satu, Allah aka menyeru mereka. Dia akan berkata, "Mana orang-orang saling mencintai dalam kebesaran-Ku? Pada hari ini, aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku. Maka, bangkitlah orang-orang itu menuju Allah Azza Wa Jalla. Wallahu'alam.