Senin, 18 Juni 2012

PENGHALANG-PENGHALANG DALAM MENUNTUT ILMU


Penghalang Dalam Menuntut Ilmu : Tidak Mengamalkan Ilmu, Putus Asa Dan Rendah Diri

Kamis, 14 Juni 2012 23:16:36 WIB

PENGHALANG-PENGHALANG DALAM MENUNTUT ILMU

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


8. Tidak Mengamalkan Ilmu
Tidak mengamalkan ilmu merupakan salah satu penyebab hilangnya keberkahan ilmu. Orang yang memilikinya akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmunya. Allah Ta’ala benar-benar mencela orang yang melakukan hal ini dalam firman-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Hal (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [Ash-Shaff: 3]

Tidak mengamalkan ilmu terbagi menjadi dua:

Pertama: Meninggalkan perintah-perintah syari’at dan meninggalkan perintah untuk tidak melakukan berbagai hal yang diharamkan syari’at. Hal ini termasuk dosa besar dan kepadanyalah ditujukan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang ancaman tidak mengamalkan ilmu.

Kedua: Meninggalkan perkara-perkara yang di-anjurkan dan meninggalkan perintah untuk menjauhi perkara-perkara yang dimakruhkan. Terkadang hal ini dicela, namun tidak masuk dalam nash-nash ancaman. Tetapi, sudah seharusnya bagi seorang alim dan para penuntut ilmu untuk melakukan berbagai perkara yang dianjurkan dan menjauhkan berbagai perkara yang dimakruhkan.[1]

'Ali bin Abi Thalib (wafat th. 40 H) radhiyallaahu ‘anhu mengatakan, “Ilmu itu memanggil amal. Jika ia memenuhi panggilan tersebut (maka itu baik), dan jika tidak ia akan pergi.”[2]

Mengapa demikian? Karena ilmu dan amal adalah dua perkara yang saling berkaitan. Bisa jadi keduanya berkumpul dan bisa jadi keduanya berpisah. Apabila ada ilmu yang tidak diiringi dengan amal, maka orang yang memilikinya akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu tersebut.

Imam adz-Dzahabi rahimahullaah menggambarkan kondisi di zamannya dalam perkataannya, “Hari ini, tidak tersisa dari ilmu-ilmu yang sedikit ini kecuali sangat sedikit dan ada pada orang tertentu saja. Begitu sedikitnya orang yang mengamalkan di antara mereka yang berilmu sedikit itu. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia-lah sebaik-baik penolong.” [3]

9. Putus Asa dan Rendah Diri
Wahai para penuntut ilmu! Kita, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hajar al-‘Asqalani (wafat th. 852 H), dan ulama-ulama lainnya sama-sama disebutkan dalam firman Allah,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” [An-Nahl: 78]

Kita semua adalah orang yang disebutkan dalam ayat di atas. Ayat ini menyatakan bahwa semua manusia itu sama.

Putus asa dan tidak percaya diri merupakan salah satu sebab tidak diperolehnya ilmu. Jangan merasa rendah diri dengan lemahnya kemampuan menghafal, lemah dalam pemahaman, lambat dalam membaca, atau cepat lupa... Semua penyakit ini akan hilang jika kita meluruskan niat dan mencurahkan usaha.

Imam al-Bukhari (wafat th. 256 H) rahimahullaah pernah ditanya, “Apakah obat lupa itu?” Beliau menjawab, “Senantiasa melihat ke kitab.” (yaitu selalu membaca dan mengulangnya).[4]

Selain itu, menjauhi maksiyat adalah sebab paling utama dalam membantu menguatkan hafalan. Jadi kita tidak boleh putus asa dan rendah diri, namun kita harus bersungguh-sungguh dan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.

10. Terbiasa Menunda-nunda
Seorang ulama Salaf berkata, “Menunda-nunda adalah termasuk tentara iblis.”

Sebagian penuntut ilmu terbiasa menunda-nunda belajarnya dalam waktu lama. Mereka mengatakan, “Saya akan menghafalkan kitab si fulan pada hari anu. Saya akan membaca kitab si fulan setelah melakukan ini dan itu.”

Yusuf bin Asbath (wafat th. 195 H) rahimahullaah mengatakan, “Muhammad bin Samurah as-Sa-ih menulis surat kepadaku sebagai berikut, ‘Wahai saudaraku, janganlah sifat menunda-nunda menguasai jiwamu dan tertanam dalam hatimu karena ia membuat lesu dan merusak hati. Ia memendekkan umur kita, sedangkan ajal segera tiba... .Bangkitlah dari tidurmu dan sadarlah dari kelalaianmu! Ingatlah apa yang telah engkau kerjakan, engkau sepelekan, engkau sia-siakan, engkau hasilkan, dan apa yang engkau lakukan. Sungguh, semua itu akan dicatat dan dihisab sehingga seolah-olah engkau terkejut dengannya dan engkau sadar dengan apa yang telah engkau lakukan, atau menyesali apa yang telah engkau sia-siakan.”[5]

Setiap orang yang ingin mendapatkan ilmu dan ingin berkepribadian sebagaimana orang yang berilmu, hendaklah tidak menyia-nyiakan waktunya sedikit pun. Sesungguhnya jika seseorang mau membaca sejarah tentang kesungguhan ulama Salaf dalam memanfaatkan waktunya ia akan merasa takjub sekaligus heran.

11. Belajar kepada Ahlul Bid’ah
Seorang penuntut ilmu tidak boleh belajar kepada Ahlul bid’ah karena ia (ahlul bid’ah) merasa ridha dengan sesuatu yang menyelisihi agama Allah, seolah-olah ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam belum sempurna dalam menyampaikan seluruh risalah.”

Tidak diragukan apabila seorang penuntut ilmu bermajelis dengan orang yang memiliki sifat di atas maka ia akan memperoleh kejelekan, dan tidak ada yang datang kepadanya, kecuali berbagai kerusakan. Karena, meskipun orang yang bermajelis dengannya tidak mengamalkan bid’ahnya, maka paling tidak ia mendapatkan syubhat (keraguan) darinya sehingga ia menjadi bingung dalam segala urusannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيْسِ السُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً.

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk hanyalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia memberikanmu minyak, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan aroma yang harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar bajumu atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap.” [6]

Imam an-Nawawi (wafat th. 676 H) rahimahullaah berkata mengomentari hadits ini, “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan bermajelis dengan orang-orang shalih, orang-orang yang memiliki kebaikan, akhlak mulia, wara’, ilmu, dan adab. Dan (di dalamnya juga terdapat) larangan bermajelis dengan pelaku kejahatan, ahlul bid’ah, orang-orang yang membicarakan aib orang lain, dan yang selainnya dari berbagai macam perbuatan tercela.” [7]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ.

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah dipelajarinya ilmu dari al-ashaaghir.” [8]

Imam Ibnul Mubarak (wafat th. 181 H) rahimahullaah ditanya tentang al-ashaaghir? Beliau menjawab, “Al-ashaaghir adalah ahlul bid’ah.” [9]

Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu mengatakan,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْـرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِـبَـلِ أَصْحَابِ مُـحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَكَابِرِهِمْ فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ فَذَلِكَ حِيْنَ هَلَكُوْا.

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari para Shahabat Nabi shallalaahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama Ahlus Sunnah. Apabila mereka mengambil ilmu dari ahlul bid’ah, maka itulah saat kebinasaan mereka.”[10]

Yang dimaksud dengan al-akaabir adalah ulama Ahlus Sunnah yang memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut pemahaman para Shahabat. Dan yang dimaksud dengan al-ashaaghir adalah ahlul bid'ah. [11]

Para ulama telah mengecam duduk-duduk bersama Ahlul Bid’ah, maka bagaimana dengan mengambil ilmu dari mereka??!!

Imam al-Hasan al-Bashri dan Ibnu Sirin (wafat th. 110 H) rahimahumallaah mengatakan, “Janganlah kalian bermajelis dengan pengikut hawa nafsu (ahlul bid’ah), jangan berdebat dengan mereka, dan jangan mendengarkan perkataan mereka.” [12]

Adapun alasan dilarangnya mendengarkan ilmu dari ahlul bid’ah adalah agar namanya tidak terkenal, pengikutnya menjadi sedikit, dan selamat dari berbagai syubhatnya.[13]

Bersungguh-sungguhlah dalam menimba ilmu dari para ulama atau para ustadz yang memang telah dikenal keteguhannya dalam memegang Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.

Peringatan:
Pada zaman sekarang ini, tolok ukur manusia dalam menilai sesuatu sudah rusak. Mereka menganggap bahwa “orang alim/ulama” adalah setiap orang yang dapat memberikan nasehat yang dapat menyentuh hati atau memberikan ceramah dengan semangat berapi-api, atau khutbah Jum’at dengan retorika yang mengesankan. Mereka inilah yang dianggap sebagai ulama sehingga orang-orang awam belajar dengan mereka, bahkan meminta fatwa dari mereka.
Wallaahul Musta’aan.

Oleh karena itu, jauhilah kebiasaan masyarakat awam yang mengambil ilmu dari para pemberi nasihat dan khatib Jum’at yang mereka anggap sebagai orang alim karena hal itu berarti menyandarkan ilmu bukan kepada ahlinya. Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya hari Kiamat. Karena, tidak semua orang yang pandai dalam memberikan nasehat, ceramah, maupun khutbah Jum’at adalah orang alim. Ini bukan berarti kita tidak boleh mendengar nasihat dan khutbah mereka, namun maksudnya adalah tidak boleh mengambil (belajar) ilmu syar’i kepada mereka, dan tidak menempatkan mereka pada kedudukan ulama. Allah-lah yang memberikan taufiq.[14]

Imam Muhammad bin Sirin (wafat tahun 110 H) rahimahullaah mengatakan,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ، فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ.

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian?” [15]

Imam Malik bin Anas (wafat th. 179 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu tidak boleh dipelajari dari empat orang: (1) orang bodoh yang menampakkan kebodohannya meskipun banyak meriwayatkan hadits, (2) ahlu bid’ah yang mengajak kepada hawa nafsunya, (3) orang yang berdusta saat berbicara dengan orang lain meskipun ia tidak berdusta dalam meriwayatkan hadits, dan (4) orang shalih ahli ibadah namun tidak memahami apa yang ia katakan.” [16]

Syaikh Bakr Abu Zaid hafizhahullaah mengatakan, “Wahai para pelajar! Jadilah Salafi sejati (ikutilah jejak para ulama Salaf). Hati-hatilah jangan sampai para ahli bid’ah mencelakakanmu karena mereka banyak membuat jalan untuk menjegalmu. Mereka bungkus semua itu dengan ucapan yang manis seperti madu padahal ia adalah madu yang pahit dan kucuran air mata, indah kulit luarnya dengan tipuan dan khayalan belaka, mempertontonkan keluarbiasaan yang dianggap “karamah”, menjilati tangan serta mencium pundak?? Tidaklah semua itu melainkan bara buatan ahli bid’ah dan panasnya api fitnah yang ditanamkan dalam hatimu yang akan menjeratmu dalam lingkaran syaitannya. Demi Allah! Tidaklah orang yang buta bisa menuntun dan memberi petunjuk untuk memimpin orang-orang buta sepertinya.”[17]

12. Tergesa-gesa Ingin Memetik Buah Ilmu
Seorang penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa dalam usahanya untuk memperoleh ilmu. Menuntut ilmu tidak cukup dilakukan satu atau dua tahun karena yang demikian menyalahi jalan Salafush Shalih. Menuntut ilmu agama tidak bisa melalui jalan kursus atau belajar dengan singkat. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam saja menerima wahyu selama 23 tahun.

Sebagian pelajar ada yang menyangka bahwa menuntut ilmu laksana santapan lezat dan minuman segar, yang cepat terlihat hasil dan manfaatnya sehingga ia beranggapan dalam hatinya bahwa setelah berlalu satu tahun -atau lebih bahkan kurang- dari umurnya yang ia habiskan untuk menuntut ilmu, maka ia akan menjadi seorang berilmu yang ahli. Ini adalah pendapat yang keliru, gambaran yang rusak, dan cita-cita yang rendah. Bahaya yang ditimbulkannya sangat besar dan kerusakannya sangat luas karena dapat mendorong pelakunya berbicara tentang agama Allah Ta’ala tanpa ilmu, menganggap dirinya hebat, dan akhirnya mencintai kesombongan dan merasa sudah alim, padahal ia belum layak untuk itu. [18]

Orang yang memperhatikan keadaan para Salaf, maka ia akan merasa heran sekaligus takjub dengan kegigihan mereka dalam berusaha memperoleh ilmu secara terus-menerus. Mereka tidak merasa lemah, pantang menyerah, dan tidak pernah sombong. Semboyan mereka adalah ‘Menuntut ilmu dari pangkuan sang ibu sampai masuk liang lahat’. Semboyan ini bukanlah hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Yahya bin Abi Katsir (wafat tahun 132 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu tidak bisa diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan.” [19]

Imam Ibnul Madini (wafat th. 234 H) rahimahullaah mengatakan, “Dikatakan kepada Imam asy-Sya’bi, ‘Dari mana Anda peroleh semua ilmu ini?’ Beliau menjawab, ‘Dengan tidak bergantung pada manusia, menjelajahi berbagai negeri, bersabar seperti sabarnya benda mati, dan berpagi-pagi mencarinya seperti berpagi-paginya burung gagak.’”[20]

[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]
_______
Footnote
[1]. Lihat ‘Awaa-iquth Thalab (hal. 23-24), karya ‘Abdus Salam bin Barjas Ali ‘Abdul Karim.
[2]. Iqtidhaa’ al-‘Ilmi al-‘Amal (no. 40). Perkataan yang serupa diri-wayatkan juga dari Ibnu Munkadir, Sufyan ats-Tsauri, dan Waki’ bin Jarrah. Lihat Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/707, no. 1274) dan al-Iqtidhaa’ (no. 41).
[3]. Tadzkiratul Huffaazh (III/157), karya al-Hafizh adz-Dzahabi, cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah.
[4]. Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (II/1227, no. 2414).
[5]. Iqtidha al-‘Ilmi al-‘Amal (hal. 114, no. 201).
[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/408), al-Bukhari (no. 2101, 5534) dan Muslim (no. 2628), lafazh ini milik Muslim, dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu.
[7]. Syarah Shahiih Muslim lin Nawawi (XVI/178).
[8]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd (no. 52), Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jaami’ (I/612, no. 1051 dan 1052), ath-Thabrani dalam al-Kabiir (XXII/908), dari Abu Umayyah al-Jumahi radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 695).
[9]. Lihat Syarah Ushuul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah (I/95, no. 102).
[10]. Atsar shahih: Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd (no.764), ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf (no. 20446, 20483), dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/617, no. 1060).
[11]. Ta'liq Syaikh Ahmad Farid atas kitab az-Zuhd karya Imam Ibnul Mubarak (hal. 425)
[12]. Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Sunannya (I/110). Lihat Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (hal. 528-536).
[13]. Dinukil dari ath-Thariiq ilal ‘Ilmi (hal. 87-88) dengan sedikit perubahan dan tambahan.
[14]. Dinukil dari ‘Awaaiquth Thalab (hal. 33-34) dengan sedikit perubahan.
[15]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah kitab Shahiihnya (I/14).
[16]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (VI/ 61).
[17]. Hilyah Thaalibil ‘Ilmi (hal. 42).
[18]. Lihat ‘Awaa-iquth Thalab (hal. 57) dengan sedikit perubahan.
[19]. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 612 (175)) dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/384, no. 553).
[20]. Tadzkiratul Huffaazh (I/64).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar